sunset

Aku penikmat berat sunset. Semakin mengabadikan, rasa penasaran tentang pesona sunset esok hari akan selalu ada. Menikmatinya di tepi Danau Limboto, membawa pada renungan tentang filosofi matahari terbenam.

Mengapa langit merah saat matahari terbenam? Bukan biru seperti siang hari? Seringlah bertanya sesederhana mungkin, karena kadang-kadang pertanyaan paling sederhana justru paling sulit dijawab.

Matahari dan langit sebenarnya tidak berubah warna setiap jam di luar angkasa. Ini hanya soal permainan cahaya pada mata kita. Warna langit akan tampak berubah oleh tangkapan mata , saat cahaya menembus atmosfir.

Ingatkah tentang spektrum cahaya? Itu tentang MEJIKUHIBINIU, deretan warna mulai dari merah, jingga, kuning, hijau, biru hingga ungu. Setiap warna mencerminkan frekuensi cahaya yang berbeda-beda.

Semakin ke arah ungu maka frekuensinya rendah, semakin ke arah merah frekuensinya tinggi.

Ketika siang hari, intensitas cahaya tinggi. Ini menyebabkan frekuensi cahaya yang paling tinggi akan sampai ke mata, sehingga langit tampak biru cerah (paduan warna ungu, biru dan hijau).

Demikian sebaliknya saat matahari terbenam, posisinya berada di dekat garis cakrawala sehingga frekuensi cahayanya rendah dan tampak oleh mata sebagai jingga atau merah.

Hanya itu yang tersisa dalam memori otak, setelah membaca buku astronomi sepuluh tahun lalu. Aku tak pernah lupa tentang spektrum cahaya, asal mula warna.
Ah…betapa rumit alam ini. Bahkan setiap warna memiliki riwayatnya masing-masing. Dan sore itu, ada jingga yang sempurna hinggap di mataku.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website