Monyet Sulawesi (Macaca hecki)

Monyet Sulawesi (Macaca hecki)

Tuanku,,,aku marah padamu. Sudah lama. Begini ceritanya…
Dulu aku mana tahu tentang rupiah. Maklum aku hanya mahluk berambut lebat, yang memuja rimba sedemikian hebat.

Aku ingat saat kau menyerahkan lembaran uang, yang semula kukira adalah sampah. Sampai ketika tuanku terdahulu dengan riang memintamu membawaku pulang. Aku baru tahu kalau uang itu sumber kebahagiaan bagi kaummu.

Tuanku…tadinya kupikir kau pria baik-baik. Yang berkorban rupiah untukku, lalu melepasku kembali menyongsong rimba penuh haru.

Ternyata itu hanya mimpi basah tuanku, basah dengan air mata. Lihat, aku juga bisa menangis, sama sepertimu. Ngomong-ngomong, wajah kita juga hampir sama ya.

Tapi kita berbeda dalam hal kebebasan tuanku. Kau bebas berbuat apa saja, sedangkan aku korban dari kebebasanmu. Seutas tali yang membelengguku adalah saksinya.

Tuanku,,, mungkin sesekali aku harus berterima kasih padamu. Tanpamu aku tak mengenal ada air bernama “Aqua”. Tadi aku meneguknya dari gelas plastik, yang dilemparkan seorang manusia ke arah kepalaku. Kau memang sering lupa memberiku air.

DSC05167Tanpamu mungkin aku juga tak tahu caranya mengendalikan rasa lapar. Tadi aku menggigit kaleng sekeras mungkin, berharap kaleng menjelma menjadi buah.

Tuanku,,ingatkah pagi itu kau sedang bercakap denganku, namun kubalas dengan tatapan tajam. Aku sedang mengirim sebuah pesan.

Pesan bahwa aku kecewa padamu, pada akal yang kau abaikan. Padahal Tuhan sudah memberimu akal itu gratis. Sedangkan aku tak memilikinya. Bukankah itu yang membedakanmu denganku tuan?

Tapi sudahlah,,,sia-sia aku melawanmu tuanku. Kuanggap ini balasan atas keangkuhanku. Dahulu aku menganggap diriku ini penting, karena katanya aku hewan langka dan dilindungi. Apalagi aku penghuni asli Sulawesi, bertambahlah kesombonganku.

Yang membuat aku tak habis pikir lagi, kau repot-repot memberiku nama, Dirga. Padahal nama asliku “Dihe”. Bahkan aku punya nama yang lebih manis, Macaca hecki.

Tuanku..kau kenal Charles Darwin bukan? Kalau tidak kenal, coba tengok Wikipedia. Di sana ada fotonya. Iya, orangnya tinggi dan setengah botak. Lebih botak dari kepalamu, tapi tak lebih bodoh darimu.

Tuanku..kau tahu Darwin pernah bilang apa? Katanya kera itu berevolusi lalu menjadi manusia. Kau tahu apa itu evolusi? Kalau masih tidak tahu? buka saja Googlemu tuanku.

Meski Darwin tak pernah ngomong langsung soal evolusi kera jadi manusia, tapi aku sedih mendengarnya tuanku. Karena itu berarti aku bukan kera yang beruntung.

Tapi,,,setelah empat tahun hidup bersamamu, aku baru sadar bahwa teori Darwin itu salah besar tuanku. Bukan kera yang berevolusi menjadi manusia, tapi manusia yang sedang berubah menjadi kera tuanku. Memang tak semua, tapi kau adalah salah satunya tuanku.

Tuanku, sekali lagi, aku marah padamu….

DSC05196Catatan : Macaca hecki adalah monyet Sulawesi yang memiliki nama lokal Dihe. Belum ada catatan terbaru mengenai jumlah populasi mereka saat ini di Gorontalo. Kehidupan mereka terancam oleh keserakahan manusia. Selama musim kemarau tahun 2015, dilaporkan banyak kelompok macaca yang turun dari hutan ke pemukiman warga di Gorontalo. Mereka kehilangan “rumah” karena kebakaran yang terus menjalar. Saat sedang trip ke Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara pada Oktober 2015, ada satu keluarga dihe mencari makan di tepi jalan raya, bukan di hutan. Namun yang lebih menyedihkan, beberapa hari lalu ada seekor macaca sedang diikat di tepi jalan, dia bergelut dengan dahaga dan lapar. Inikah perbuatan mahluk bernama manusia??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website