Kalau gagal belajar toleransi antar sesama manusia, maka belajarlah dari hewan. Mengapa dari hewan, bukan manusia? Tanya seorang kawan di suatu sudut Yogyakarta kala itu. Toleransi itu sama saja dengan simbiosis, tergantung jenis simbiosisnya.

Manusia itu rumit, kompleks, ribut, rempong, dan lebay. Masalah apa itu toleransi saja bisa dibahas berabad-abad, di segala ruang, hingga menghabiskan paket data ber giga-giga untuk itu.

Agar tak panjang lebar, mari simak saja hubungan batin yang sangat “religius” dari beberapa hewan ini. Setelah membacanya, semoga anda tidak minta kepada Tuhan untuk diciptakan menjadi hewan saja.

1. Kuntul dan Sapi

601171_10153762388142380_1177725105363935516_n

Pada Desember 2015, saya memotret kawanan sapi dan burung kuntul sedang makan bersama di kawasan Danau Limboto. Tahukah anda apa yang membuat mereka akur? Kuntul ternyata akan sangat kesulitan mencari makan, jika berada jauh dari si sapi sahabatnya.

Kuntul suka makan serangga. Setiap sapi melangkah pindah saat merumput, ada serangga yang terusik dan terbang dari persembunyiannya. Serangga ini langsung dicaplok kuntul dan hap lalu ditelan. Saya menyaksikan sendiri perilaku ini.

Para Ornitolog (ahli burung) percaya bahwa dengan berada di dekat sapi maka kuntul dapat menghemat energi saat mencari makan. Tak heran kawanan kuntul ini sering mengekor di belakang atau samping, saat sapi mencari makan.

Bagaimana dengan sapi? Walaupun (mungkin) dia tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari sikap rese’ sang kuntul, dia tidak lantas mengusir burung-burung berleher panjang itu. Mungkin sapi memegang teguh prinsip, lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah.

2. Ikan Badut, anemon dan udang

nemo 3

Tiga hewan ini sejak dulu hidup seatap. Bukan poligami, bukan pula karena masing-masing tuna wisma. Kurang luas apa laut sampai mereka memutuskan hidup di lahan yang sempit?

Ikan badut dan udang tak pernah keluar dari anemon yang menjadi sarangnya.Anemon memiliki racun dalam setiap tentakelnya, yang digunakan ikan badut melumuri tubuhnya sehingga predator menjauh. Selain racun itu, ia juga bisa bersembunyi dibalik rimbunnya anemon. Udang mirip kaca yang hidup di anemon juga memanfaatkan hal yang sama.

Anemon dapat untung apa? Penelitian terbaru di bidang Biologi Kelautan Universitas Auburn di Alabama, Amerika Serikat menunjukkan bahwa ternyata anemon akan tumbuh lebih cepat dan sehat dengan kehadiran ikan badut. Gerakan lincah ikan badut memudahkan anemon untuk memperoleh oksigen lebih banyak, sehigga metabolisme anemon meningkat.

Jika hewan-hewan di atas hidup damai, itu karena mereka bersikap toleran. Dan kalau masih ada yang bilang toleransi berbeda dengan simbiosis, jangan bodoh ! Keduanya hanya berbeda mata pelajaran. Toleransi ada di mata pelajaran Agama dan simbiosis ada di Biologi.
Dan jangan sampai kuntul, sapi, ikan badut, anemon dan udang lebih toleran dari kita.

2 thoughts on “TOLERANSI DAN SIMBIOSIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website