Telur maleo dan anak maleo yang baru saja muncul ke permukaan tanah di TNBNW

Telur maleo dan anak maleo yang baru saja muncul ke permukaan tanah di TNBNW

Liburan akhir tahun 2015, kami, tim yang sering berburu foto burung memutuskan untuk menyapa Burung Maleo (Macroephalon maleo) di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW).

Taman Nasional ini diberi nama Pahlawan Nasional, karena konon Nani Wartabone pernah bersembunyi di hutan tersebut ketika diburu penjajah Belanda. Burung Maleo sendiri adalah maskot dari TNBNW. Taman Nasional ini terletak di dua yakni Gorontalo dan Sulawesi Utara.

Aku, Idham, Panji, Panti, dan Fajar Dani, Lukfi dipandu Iwan Hunowu dari Wildlife Conservation Society (WCS). Iwan hapal selul beluk TNBW karena lembaga tempatnya bekerja memiliki tempat penetasan (hacthery) di taman nasional itu.

Kami tiba di Desa Tulabolo, Kabupaten Bone Bolango pukul 07.00 dan kemudian lanjut dengan berjalan kaki menuju taman nasional. Perjalanan dari desa tesebut menuju habitat Maleo memakan waktu sekitar dua jam dan melewat beberapa anak sungai.

Saat mendaki bukit pertama kami terkejut dengan sekelompok Monyet Sulawesi yang lari akibat kedatangan manusia. Keinginan untuk memotret monyet ini pupus sudah.

Tim tiba di habitat Maleo pukul 09.15 Wita. Ada sebuah papan sebagai petunjuk ke pondok atau camp peristirahatan pertama. Tim memutuskan untuk istirahat sekitar 30 menit, lalu melanjutkan perjalanan menuju ladang peneluran (nesting ground) dan bangunan penetasan (hatcheries) Hungayono.

Sebelum tiba di  lokasi itu, kami dimanjakan dengan pemandangan alam bebas dan tebing-tebing gagah menjulang. Tebing ini merupakan hasil ukiran air panas bumi yang melintasinya. Maleo tidak mengerami telurnya, melainkan memanfaatkan panas bumi untuk bertelur. Puas memandangi tebing indah itu kami lalu turun ke lokasi peneluran.
WCS sendiri membangun tiga hatcheries di lokasi itu sejak 2001 untuk membantu penetasan, karena telur Maleo sering dimangsa biawak dan oleh manusia sendiri.

Sebelum bertelur, sepasang burung akan melakukan pengamatan sehari sebelumnya. Bila dinilai aman, sepasang burung Maleo akan datang keesokan hari dan mulai menggali lubang untuk bertelur. Jantan dan betina bergantian menggali hingga kedalaman sekitar 40-70 meter. Itu sebabnya di sekitar bangunan hatcheries terdapat banyak lubang bekas Maleo bertelur.

tebing dengan ukiran indah yang berada sekitar peneluran burung Maleo kawasan TNBNW

Petugas WCS kemudian akan menggali telur tersebut dan memindahkannya ke salam hactheries. Masa inkubasi telur bervariasi 62-82 hari. Setelah menetas, anak Maleo akan menggali vertikal menuju permukaan tanah selama sekitar 48 jam hingga akhirnya menghirup udara segar.

Kami beruntung menemukan satu telur yang baru menetas.  Anak burung ini langsung kelihatan panik saat kami mendekati pintu hatcheries. Maleo sangat sensitif dengan kedatangan manusia.

Ukuran telur Maleo lima kali lebih besar dari telur ayam. Meski baru sehari menetas,  anak Maleo bisa langsung terbang tinggi.

Lutfi sebagai anggota tim yang paling muda , akhirnya kami pilih untuk melepas anak Maleo ke alam.

“Setelah keluar dari tanah, kami langsung melepas anak maleo dan tidak memberinya makan. Biar dia mencari makan sendiri di alam,” ungkap Iwan.

Selamat menghirup udara bebas maleo….kembalilah kelak untuk bertelur lagi di tempat yang sama.***

3 thoughts on “BERTEMU ANAK MALEO DI TNBNW (Tentang Maleo Bagian 1)

  1. What a nice story. Senang telah menjadi bagian dari tim saat itu. Sungguh perjalanan yang menyenangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website