IMG-20160321-WA0039

Daud berhasil menggali telur Maleo di Cagar Alam Panua

Kawan, mari kita lanjutkan cerita tentang burung Maleo !

Betapa Maleo itu identik dengan Sulawesi. Saking populernya burung ini, banyak tempat usaha mulai dari kafe hingga hotel di Sulawesi yang mengadopsi nama Maleo. Di Provinsi Gorontalo, sebuah desa yang terletak di pesisir laut  diberi nama Desa Maleo. Desa ini masuk dalam Kecamatan Paguat Kabupaten Pohuwato.

Desa Meleo Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato

Desa Maleo Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato

Sejak dulu burung Maleo hidup di desa ini, sehingga kawasan tersebut ditetapkan sebagai Cagar Alam Panua pada tahun 1992 dengan luas 45.575 hektar. Panua adalah sebutan orang Gorontalo untuk burung Maleo.

Selain menapakkan kaki di habitat Maleo yang berada pada kawasan Taman Nasional Nani Bogani Nani Wartabone (TNBNW),  saya dan dua rekan dari Burung Indonesia yaitu Panji dan Fajar, serta Idham (fotografer burung) juga menjelajahi CA Panua demi burung endemik Sulawesi ini.

Berbeda dengan di TNBNW, tempat peneluran Maleo kali ini substratnya adalah tanah berpasir yang tak jauh dari tepi pantai. Kami tiba di Desa Maleo pukul 04.00 Wita dan berjalan masuk ke cagar alam melalui tepian pantai. Tepat pukul 05.30 kami sudah harus berada dalam pos pemantauan, karena pasangan maleo biasanya datang bertelur pukul 06.00-09.00.

Mengintip Burung Maleo dari dalam pos pengamatan di Cagar Alam Panua

Mengamati burung dari dalam pos pengamatan di Cagar Alam Panua

Targetnya cuma satu, dapat foto Maleo yang ciamik. Syukur-syukur bisa mengambil video dan menghitung durasi mereka menggali lubang hingga selesai bertelur.

Seorang warga Desa Maleo yang juga petugas BKSDA, Daud Badu menjadi pemandu kali ini. Ka Dau, panggilan akrabnya, dulu adalah pemburu telur maleo untuk dimakan dan dijual.

Pos pengamatan burung yang kami temui kondisinya sederhana. Hanya bangunan dari daun kelapa dengan tinggi 1,5 meter dan luas sekitar 2×2 meter. Kami segera mengatur posisi dan menyelipkan kamera diantara tumpukan daun tersebut.

Pukul 06.00, kamera sudah siap. Penantian dimulai, suasana hening seketika. Saya sendiri membayangkan ada sekitar dua hingga lima pasang maleo datang dan menggali lubang, tepat di hadapan lensa. “Fotografer wildlife pemula memang begitu, sering membayangkan pose obyek yang muluk-muluk” kata Idham memecah lamunan. Sumpah, saya ingin tertawa lepas karenanya.

Daud Badu, petugas BKSDA menggali untuk menemukan telur Maleo

Daud Badu, petugas BKSDA menggali untuk menemukan telur Maleo

Pukul 07.00 belum ada tanda-tanda maleo datang. Sehelai bulunya pun tak nampak. Kami menyibukkan diri memotret beberapa spesies burung lain yang hilir mudik di depan pos.

Pukul 08.00 mulai terdengar suara aneh. Saya menoleh ke belakang, miiris sekali pemandangan ini. Dua orang tertidur pulas, lengkap dengan dengkurannya sambil memeluk kamera. Saya was-was, bagaimana bisa Maleo datang bila keadaan riuh seperti ini.

Pukul 09.00 pengamatan tetap nihil. Kami menyerah. “Kita cari telur maleo saja. Nanti tebak lubang mana yang ada telurnya,” Ka Dau menghibur kami. Kami tiba pada satu gundukan pasir yang tampak biasa saja. Ka Dau merasa yakin di situ ada telur baru. Ia menggali, mengibaskan pasir dengan gesit.

Memasukkan kembali telur ke dalam bangunan ladang peneluran, lalu menunggu hingga anak Maleo keluar dari dalam tanah

Memasukkan kembali telur ke dalam bangunan ladang peneluran, lalu menunggu hingga anak Maleo keluar dari dalam tanah

Tak sampai 10 menit, Ka Dau memamerkan telur hasil penggaliannya. “Sejak kecil saya terlatih mencari telur maleo. Tapi keahlian ini tidak ingin saya bagi dengan orang lain, karena maleo bisa punah,” katanya. Telur maleo tersebut dibawa ke ladang peneluran, dibenamkan kembali ke dalam pasir dan diurutkan sesuai tanggal penggalian. Selama 2015, ada sekitar 100 telur yang berhasil ditetaskan di lokasi ini.

Kelak, dengan pesimis saya berkata, nama desa ini bukan Maleo lagi. Hutan yang berada di seberang pantai, tempat maleo bergantung hidup saat ini  sedang digunduli dari bagian tengah oleh para pembalak.

Dan yang akan tersisa mungkin hanya patung seekor maleo yang berdiri di atas  tiga butir telur (maleo asli hanya menghasilkan satu telur), serta tugu telur maleo  yang berdiri di kawasan Pantai Pohon Cinta.***debby***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website