Semula kupikir menyemai benih tanaman itu mudah. Semudah mencontek berbagai kiat dan tips di Google, semudah membeli sayuran di pasar, atau semudah mematikan siaran televisi ketika kontennya memuakkan. Tidak kawan, menyemai benih itu rasanya berada di tengah-tengah. Di tengah kehampaan, merugi dan was-was. Setiap saat dirundung penasaran kapan biji akan terbelah, dan lalu tunasnya muncul.

Beberapa kali saya menyemai benih asal-asalan, beberapa kali itu pula saya gagal total. Tapi tidak kali ini.
Sebelum menyemai benih, saya mendatangi dua guru. Guru pertama adalah Syamsudin Ayub, beliau adalah Guru Biologi yang pekarangan rumahnya penuh dengan sayuran dan tanaman obat.  Pak Syam, begitu saya memanggilnya, juga pendiri Sekolah Alam Mandiri dan pedagang tanah bernutrisi. Tanah yang dicampur dengan sekam padi dan pupuk kandang.
“Guru, tolong saya diajari menyemai benih. Kali ini saya serius ingin menanam dari awal. Tidak mau lagi beli bibit yang sudah jadi, harus mulai dari menyemai biji,” kata saya pagi itu.
Pak Syam tertawa renyah, dia berujar “tidak ada benih yang tidak tumbuh, nou. Pasti bisa, intinya benih itu harus dalam kondisi lembab karena dia belum kuat menghadapi dunia luar”. Kalimat itu terasa sejuk. Seperti minum es kelapa muda gula aren, di bawah pohon, di samping sungai bening. Lalu ngorok.

Guru kedua adalah ayah saya. Seorang pensiunan guru dan petani. Jawaban ayah saya “pernah kan bikin kecambah tauge? kondisikan benihnya seperti itu tapi pakai tanah”.
Baiklah, saya menyimpulkan kondisinya harus selalu lembab tapi media tanamnya adalah tanah, bukan air. Jadi, begini yang saya lakukan (maaf ini hanya untuk yang amatir) :

ALAT DAN BAHAN

  • Siapkan tiga macam media tanah.
  1. Tanah A adalah campuran pupuk kandang, sekam, tanah dan digemburkan.
  2. Tanah B adalah tanah tanpa campuran apa-apa, tetapi digemburkan.
  3. Tanah C adalah tanah tanpa campuran dan tanpa digemburkan. Saya ingin menyemai benih dengan perlakuan berbeda, untuk kepentingan penelitian kecil-kecilan.
  • Saya memilih benih terong, seledri dan kangkung. Ketiganya memiliki ukuran biji yang berbeda. Kangkung bijinya lebih besar, biji terong sedang dan biji seledri sangat kecil dan halus. Saya ingin melihat ketangguhan ketiga biji ini, manakah yang lebih cepat tumbuh.
  • Untuk wadah, saya gunakan loyang bekas dan karung bekas pembungkus semen.
  • Daster bekas, bisa juga handuk bekas.
  • Benih berupa biji beli dari toko alat pertanian.

CARA MENYEMAI

  • Siapkan wadah, bersihkan dari karat bila ada. Untuk pembungkus semen dicuci bersih, lalu dibalik agar lapisan dalam nylonnya bisa menahan air tidak merembes kemana-mana.
  • Letakkan tanah di atas wadah, ratakan permukaannya. Tingginya bisa berkisar 10-60 cm.
  • Sebarkan benih di permukaan tanah secukupnya. Untuk biji yang lebih besar seperti kangkung, beri jarak antar biji.
  • Setelah benih disemai. Ada tiga perlakuan yang saya gunakan :
    – Wadah 1 berisi tanah A dan benih, lalu tutup seluruh permukaan tanah dengan daster atau handuk yang     sudah dibasahi.
    – Wadah 2 berisi tanah B dan benih, tutup permukaannya.
    – Wadah 3 beriri tanah C dan benih, tanpa ditutupi kain.
  • Untuk perawatan, siram dua kali sehari.
  • Cara berikut ini tak pernah saya lakukan sebelumnya. Berdoa.
Benih kangkung usia 5 hari

Benih kangkung usia 5 hari

Setelah menunggu lima hari, akhirnya tunas-tunas mulai bermunculan. Yang lebih dahulu mengeluarkan tunas adalah kangkung, kemudian terong dan seledri. Ketiganya hanya terpaut waktu dua hari.
Bagaimana dengan hasil dari tiga perlakuan di atas? Ternyata Wadah 1 pertumbuhannya lebih pesat dibanding Wadah 2. Sedangkan Wadah 2 menunjukkan pertumbuhan lebih lambat, karena tunas yang muncul tidak sebanyak Wadah 1. Bagian yang mengejutkan adalah Wadah 3, sampai saat ini (15 Agustus 2016) tak ada satu pun tunas muncul. Saya amati bijinya belum ada tanda-tanda membelah.

Benih terong usia 7 hari

Benih terong usia 7 hari

Lalu, bagaimana jika perlakuannya menggunakan pupuk kimia? Maaf saya tidak tertarik. Tulisan ini tentang organik dan menggunakan bahan yang tersisa dari alam. Yang ingin jalan pintas pupuk kimia silahkan tengok blog lain.

Benih seledri usia 9 hari

Benih seledri usia 9 hari

Dengan kegiatan iseng ini, setidaknya saya menyimpulkan beberapa hal. Bahwa :
– Menanam (tentu saja) perlu mempelajari perilaku biji #eh tanaman.
– Google dan kesombongan saja tidak cukup, kita butuh petuah para guru seperti ayah saya dan Pak Syam.
– Usaha tanpa doa, adalah perbuatan tidak maksimal. Sementara doa tanpa usaha, adalah perbuatan sia-sia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website